Lembayung Terakhir

By Lian Yu - Februari 24, 2018

Tempat itu tidak pernah berubah. Selalu tampak indah ketika mentari mulai tenggelam. Angin berhembus pelan dengan langit yang berhias warna oranye. Dan pemandangan indah itu sepertinya kurang lengkap tanpa kamu. Seperti biasa kamu berdiri di sana. Selalu di tempat yang sama dan waktu yang sama.

Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu, dan kamu tetap melakukan rutinitas mu itu. Ada hari dimana kamu terlambat datang kesana dan kamu lari tersengal-sengal hanya untuk berdiri disana. 

Namun, hari itu tidak seperti biasanya.
"Mentari yang tenggelam itu indah ya"
"Apalagi disaat sedih..."
Setelah berucap seperti itu, kamu kembali mengawang langit sore. Senyum getir itu terhias di wajah kamu. Kamu tidak sedang baik-baik saja. Aku tahu itu.
"Ingin cerita?"

"Jika kamu menatap senja, apa yang kamu fikirkan?"

"Mencoba mengerti"

"Aku berbeda. Aku hanya berusaha untuk percaya".
Kali ini, lembayung tampak lebih muram. Setelah berkata seperti itu, kamu justru menyuruhku pulang. Dengan senyuman khas kamu, kamu kembali mengawasi langit sore.
"Jangan melakukan yang tidak tidak".
Kamu hanya menoleh dan mengangguk. Hembus angin menyeruak cukup kencang tidak seperti biasanya. Rasanya berat untuk meninggalkan tempat itu. Sesekali aku melihat kebelakang dan kamu masih berdiri di sana.

 -----------------------------------------

Aku kembali ketempat ini, tak banyak yang berubah. Hanya tidak ada kamu berdiri disana. Kamu sudah mencoba untuk percaya, dan kini aku juga. 
"Berusaha percaya bahwa garis berwarna kuning itu menjadi tanda bahwa kamu tidak akan pernah berdiri ditempat ini lagi dan aku telah gagal menjaga".


- Jakarta, sore hari

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar